Penciptaan vs Big Bang Theory
Salah satu pertanyaan filosofi yang sulit dijawab oleh umat manusia adalah tentang keberadaan semesta: bagaimana segala sesuatu yang ada di semesta ini menjadi ada? Bagaimana mungkin ada kehidupan? Mengapa hukum-hukum fisik mengatur kita?
Dengan berbagai macam pemikiran, gagasan tentang keberadaan alam semesta dan manusia dan perkembangannya, pada tahun 1927 seorang biarawan Katolik Roma Belgia, yang juga adalah astronom dan profesor di Universitas Katolik Leuven mengusulkan teori perluasan jagad raya yang kemudian menjadi teori ledakan dahsyat ( Big Bang Theory) sebagai asal usul alam semesta.
Teori ini terus berkembang dan semakin diterima secara meluas di kalangan ilmuwan dan khususnya oleh para Atheis yang menolak keberadaan Tuhan.
Namun, tentu saja teori ini masih sangat lemah dimana masih banyak realita dan putusan "rantai" yang harus disambung untuk bisa mendapatkan keadaan semesta seperti saat ini.
Situasi ini akhirnya mendorong mereka untuk menciptakan spekulasi gagasan dengan menggunakan usia dari proses dan esensi materi dari alam semesta adalah miliaran bahkan triliunan tahun, sementara usia bumi masih ribuan tahun.
Kurang lebih 1500 tahun Sebelum Masehi, Musa telah menulis jawaban yang pasti terhadap keberadaan alam semesta ini.
Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Kejadian 1:1a
Alam semesta ini ada seperti saat ini dengan segala kerumitannya tidak mungkin terjadi dengan sendirinya tanpa ada campur tangan dari sesuatu yang dianggap berkuasa untuk menjadikannya.
Setiap item dari alam semesta yang begitu unik, rumit, dan saling berhubungan satu sama lain tidak mungkin terjadi begitu saja tanpa ada yang mengaturnya.
Musa membuka tulisan nya dengan kalimat, "Pada mulanya אֱלֹהִ֑ים (baca: Elohim) menciptakan langit dan bumi".
Frase pada mulanya menjelaskan keterangan waktu sebagai permulaan segala sesuatu tentang keberadaan langit (הַשָּׁמַ֖יִם - baca Shamayim) dan bumi (אֶרֶץ - baca Ereth). Kata menciptakan dalam bahasa Aram ( בָּרָ֣א - baca Bara) merupakan kata kerja. Bara artinya menjadikan dari yang tidak ada menjadi ada.
Kamus Mounce menjelaskan definisi Kata Shamayim adalah wilayah di atas bumi, tempatnya bintang-bintang, langit, udara dan lain sebagainya.
Firman Tuhan melalui Musa ini memberikan jawaban yang pasti dan sangat jelas kepada manusia dan dunia ilmu pengetahuan bahwa Elohim sebagai Subjek (pelaku) dari keberadaan alam semesta ini adalah pencipta segala sesuatu yang ada di bumi dan yang ada di atas bumi (langit).
Elohim lah yang membuat segala sesuatu menjadi ada dari ketiadaan. Elohim lah yang mengatur segala sesuatu sehingga saling berhubungan, saling terkait, saling membutuhkan satu sama lain dengan kerumitan yang tidak mungkin bisa dikerjakan oleh manusia atau terjadi dengan sendirinya secara kebetulan.
Seorang ahli filsafat menjelaskan tentang esensi (keberadaan) dari sesuatu: bahwa ketiadaan sampai kapanpun tetaplah tiada. Tidak mungkin sesuatu menjadi ada dari ketiadaan. Sesuatu menjadi ada dari ketiadaan karena ada sesuatu yang membuatnya menjadi ada.
⏱️ Kesimpulan:
Big Bang Theory mengajarkan keberadaan semesta ini terjadi dengan sendirinya dari tidak sempurna menjadi sempurna sementara kenyataannya adalah bumi semakin tua menuju kehancuran sesuai dengan teori penciptaan bahwa keberadaan semesta ini diciptakan oleh Tuhan dari sempurna menuju ketidaksempurnaan.
🙏 Insight:
Tulisan Musa, keberadaan semesta, kerumitan esensi dan sistemnya menjelaskan keberadaan Tuhan. Menolak keberadaan Tuhan adalah menolak keberadaan semesta ini.
👌Aplikasi:
Mari memuji Tuhan Elohim yang menciptakan alam semesta ini, bumi beserta segala isinya, laut beserta segala isinya dan langit beserta segala isinya. Mengucap syukur karena Ia membuat segala sesuatu ada dalam keseimbangan sehingga kita umat manusia dapat tinggal dan hidup di dalamnya.
🔯🔯🔯
7 hari belajar Penciptaan.
Hari pertama:Penciptaan vs Big Bang Theory.

Komentar