Kuasa Dalam Pengajaran - (Renungan ke-6 Injil Markus)

Pembacaan Firman Tuhan: Markus 1:21-28

Nats: Markus 1:22: Mereka takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat. 

Setelah merekrut murid-murid pertama Yesus masuk ke dalam rumah ibadat dan mengajar. Rumah Ibadat (Yunani: sunagoga) adalah tempat ibadah orang Yahudi yang dibangun di kota-kota utama di wilayah provinsi Yehuda, sebagi cabang dari Bait Allah yang ada di Yerusalem.   Sesuai dengan akar kata Sunagoge dari Sun (bersama) dan Agoge (belajar) maka Sunagoge atau Synagoge adalah suatu tempat untuk belajar bersama Firman Allah yang tertulis di kitab-kitab saat itu.

Markus melaporkan ketika Yesus mengajar di Synagoge sangat berbeda dengan para ahli Taurat karena Ia mengajar dengan penuh kuasa. Artinya pengajaran Yesus menyentuh dengan kuat hati dan pikiran pendengar pada saat itu dan membawa perubahan dalam hidup mereka. Kuasa Yesus tidak hanya dinyatakan melalui pengajaran, melainkan juga melalui mujizat kesembuhan yang Ia lakukan atas orang yang sakit dan kerasukan setan.

Jemaat yang hadir terheran-heran melihat apa yang dilakukan oleh Yesus dan menganggap itu sebagai ajaran baru karena Yesus hanya dengan berkata-kata, roh jahat taat kepadaNya. Selama ini mereka tidak pernah melihat para pemimpin Yahudi mengusir roh jahat dari orang yang kerasukan baik pada hari Sabat maupun pada hari lainnya . Mereka hanya fokus memimpin peribadatan di Synagoge dan menjalankan ketentuan-ketentuan agama mereka.  

Refleksi 

Kuasa yang dimiliki Yesus dalam pengajaran dapat juga dimiliki bagi semua orang yang percaya kepadaNya dan mengikutiNya dengan setia. Secara khusus pengikut Kristus yang dipercayakan untuk mengajar firman Allah.

Kuasa akan hadir dan nyata dalam pelayanan kita ketika dipimpin dan dipenuhi oleh Roh Kudus. Orang-orang yang mendengar akan diberkati, yang lemah iman akan dikuatkan, yang ragu akan dituntun dalam kepastian, dan banyak hal lain yang akan terjadi sebagai akibat dari pekerjaan yang terhubung dengan kuasa Roh Kudus.

Namun hal sebaliknya akan terjadi ketika seorang hamba Tuhan, pelayan yang akan mengajar tidak menjadikan Tuhan Yesus sebagai sumber utama yang dapat membawa kuasa karena mengandalkan kemampuan diri sendiri, berpusat kepada ritual ibadah atau bersandar pada pengalaman pribadi, hasilnya hanyalah membawa kepada rutinitas yang tidak menghasilkan kuasa apapun untuk merubah. 

Aplikasi:

Seperti apakah pelayanan Anda selama ini? Siapakah yang menjadi pusat atau sumber dalam pelayanan Anda? Sejauh mana orang-orang yang dilayani merasakan kuasa Tuhan bekerja melalui pelayanan Anda? 

(Penulis: Ev. Zandy Y.W. Keliduan, SE, MABS)

Komentar

Postingan Populer