Penghambat Mujizat (Renungan ke-27 Kitab Injil Markus)
Markus 6:1-6
Ia tidak dapat mengadakan satu mujizatpun di sana (Mar 6:5a)
Nazareth adalah kota tempat Yesus tinggal bersama keluargaNya. Ia dibesarkan dengan normal disana sampai waktuNya Ia keluar dari keluargaNya untuk mengerjakan misi penyelamatan umat manusia. Di ayat 3 menjelaskan bahwa saat itu Ia bekerja sebagai tukang kayu seperti Yusuf ayahNya. Ia juga memiliki saudara yaitu Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon. Ia kembali ke kampungNya dan mengajar disitu, namun ditolak oleh karena mereka melihat asal usul dan keluargaNya tersebut. Penolakan mereka ini ternyata menghambat mujizat besar untuk terjadi disana. David Guzik menjelaskan bahwa Allah memiliki prinsip dalam bekerja bersama manusia. Ia mau bekerja melalui orang yang belum percaya, namun tidak untuk orang yang tidak percaya.
Kuasa Allah bekerja melalui kehidupan orang-orang yang beriman kepadaNya. Orang-orang yang ragu akan kuasa Tuhan menutup pintu bagi dirinya sendiri untuk mengalami kuasa ilahi. Penolakan untuk percaya bukan saja menutup pintu mujizat, melainkan juga akan dihukum (Yohanes 3:18, Wahyu 2:18). Yesus memang 100% manusia namun Ia juga 100% Allah. Sehingga Ia adalah Manusia Allah yang berkuasa. Jika mata rohani hanya memandang kemanusiaanNya saja maka akan mendatangkan keraguan seperti yang terjadi pada para “skeptis” yang menolak mujizat karena bertentangan dengan logika kemanusiaan. Begitu juga jika hanya memandang kepada ke-Ilahian-Nya saja maka akan membawa penolakan seperti yang terjadi pada para “ahli taurat” yang melihat ketidakmungkinan manusia Yesus melakukan pekerjaan-pekerjaan Allah.
Iman dibangun di atas 2 pondasi yang seimbang yaitu pengakuan dan kepercayaan terhadap kemanusiaan dan keilhian Yesus. Iman yang seperti demikian akan menghancurkan semua penghambat yang menutup saluran kuasa Yesus bekerja di dalamnya. Allah tentu saja akan memilih orang-orang yang mempercayaiNya lebih dari segalanya untuk dipakai menyalurkan kemuliaanNya. (Zandy Keliduan)
Inisight: Tuhan Yesus tidak melakukan mujizat untuk membuat orang-orang percaya kepadaNya. Ia menyatakan mujizat karena orang-orang percaya kepadaNya. Mujizat tidak dibuat untuk menunjukan kekuatan dan kemampuan atau mencari kemuliaan bagi diriNya. Mujizat dinyatakan untuk menjawab persoalan yang tidak bisa dikerjakan dalam keterbatasan manusia sehingga kuasa Allah Bapa di Sorga dapat dinyatakan dalam kemuliaanNya.

Komentar